Perempuan Sebagai Katalisator Perubahan untuk Pembangunan Bangsa yang Lebih Inklusif
Kesempatan
kaum perempuan untuk menempati berbagai bidang pekerjan saat ini, bukanlah
sesuatu yang datang begitu saja, tapi merupakan perjuangan perempuan yang
berani melawan berbagai kekuasaan. Pada awalnya, dunia perempuan tidak lebih
besar dari sehelai daun kelor. Pasalnya,
perempuan hanya tentang kasur, dapur, dan sumur. Kasur yang selalu ada di dalam kamar menandakan bahwa
seorang perempuan adalah pasangan tidur suaminya. Dapur adalah kantor perempuan
sejak pagi hari. Sedangkan sumur, letaknya agak di luar area rumah, mengartikan
bahwa perempuan tidak boleh jauh-jauh dari urusan domestik.
Saat
ini, perempuan telah melampaui batas-batas tersebut. Perempuan sudah dapat
terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari politik hingga sains, dari seni
hingga teknologi. Perempuan tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri dan ibu,
tetapi juga sebagai pemimpin, inovator, dan katalisator perubahan dalam
menciptakan pembangunan bangsa. Transformasi ini tidak terjadi tanpa
perjuangan. Saat ini, banyak perempuan yang berpendidikan tinggi, memiliki
karier yang sukses, dan telah membuktikan bahwa mereka mampu melakukan lebih
dari sekadar pekerjaan rumah tangga. Perempuan juga harus lihai berperan
penting sebagai agen perubahan dalam pembangunan bangsa. Mengingat beragamnya
tantangan dan peluang, perempuan saat ini mempunyai potensi besar untuk
mengubah wajah masyarakat secara keseluruhan.
Salah
satu tantangan terbesar yang dihadapi perempuan adalah masih dikaitkan dengan
stereotip. Meskipun perempuan sudah mengalami kemajuan yang signifikan, masih banyak
yang percaya bahwa perempuan lebih emosional dan kurang memiliki kemampuan
mengambil keputusan. Pandangan ini sangat merugikan karena dapat menghalangi
perempuan untuk mendapatkan pengakuan yang setara di berbagai bidang, baik di
bidang pendidikan, dunia kerja, dan masyarakat. Jika perempuan terus dipandang
kurang mampu dibandingkan laki-laki, maka kemampuan mereka untuk tumbuh dan
berkontribusi akan menurun. Meskipun banyak perempuan yang berpendidikan dan
berketerampilan tinggi, mereka sering kali mengalami diskriminasi di dunia
kerja.
Dalam
banyak kasus, perempuan masih menghadapi tantangan dalam perekrutan dan
promosi. Hal ini menimbulkan kesenjangan dalam dunia kerja, mengakibatkan
posisi-posisi strategis yang tinggi masih didominasi oleh laki-laki. Situasi yang
tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga mengurangi keberagaman cara pandang
yang seharusnya ada dalam pengambilan keputusan di berbagai organisasi.
Sementara itu, keterlibatan perempuan dalam politik masih sangat rendah.
Meskipun terdapat kemajuan, banyak perempuan yang belum memegang posisi
pengambilan keputusan di tingkat lokal dan nasional. Absennya perempuan di
bidang-bidang tersebut mengakibatkan kebijakan tidak sepenuhnya
mempertimbangkan perspektif dan kebutuhan perempuan. Kebijakan publik yang
lebih inklusif dan adil hanya dapat dicapai jika perempuan terlibat aktif dalam
proses politik dan pengambilan keputusan. Selain itu, norma-norma ketat di
banyak budaya sering kali membatasi peran perempuan. Tekanan sosial untuk
memenuhi peran tradisional seperti istri
dan ibu seringkali menghalangi perempuan mencapai aspirasi dan impiannya. Hal
ini menimbulkan ketakutan dan keraguan terhadap kemajuan karir dan kehidupan
bermasyarakat.
Untuk
mengatasi tantangan ini, perempuan harus terus meningkatkan pendidikan dan
keterampilan mereka. Dengan pengetahuan yang baik, mereka dapat bersaing di
berbagai bidang dan memegang posisi yang lebih strategis. Tak hanya itu, perempuan
perlu berani untuk memasuki dunia kepemimpinan, baik di sektor publik maupun
swasta. Dengan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, mereka bisa
mempengaruhi kebijakan yang mendukung kesetaraan. Di sisi lain, keterlibatan
perempuan dalam politik masih sangat rendah. Meskipun ada kemajuan, banyak
perempuan yang belum terwakili dalam posisi pengambilan keputusan di tingkat
lokal maupun nasional. Untuk itu, perempuan juga harus terlibat dalam proses
politik dengan langkah krusial; dengan mencalonkan diri atau mendukung kandidat
perempuan, mereka dapat memastikan kepentingan perempuan terwakili. Selain itu,
perempuan harus aktif menyuarakan isu-isu yang penting, seperti kesetaraan
gender dan kekerasan terhadap perempuan. Suara mereka dapat mendorong perubahan
yang signifikan dan membantu memperkuat posisi perempuan dalam masyarakat.
Tak
kalah penting, untuk menyadari kekuatan dan potensi yang perempuan miliki, edukasi
masyarakat tentang pentingnya peran perempuan dapat membantu mengubah pandangan
dan stigma yang ada. Dengan langkah-langkah strategis dan tepat, perempuan
dapat mengubah narasi dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan
berkeadilan. Ini bukan hanya tentang memperjuangkan hak perempuan, tetapi juga
tentang menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang, tanpa memandang
gender, untuk berkontribusi dan berkembang. Dengan demikian, perempuan dapat
menjadi penggerak perubahan yang nyata, menginspirasi generasi mendatang untuk
terus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan.
Oleh;
Siti Anisa’ Nur Fitriani,
Ketua
Bidang Penelitian, Pengembangan, dan Pembinaan Anggota
Komisariat FITK
Kader
HMI-Wati (Kohati) Komisariat FITK
Post a Comment